PT Freeport Indonesia (PTFI) memberi manfaat ekonomi langsung maupun tidak langsung yang cukup besar bagi pemerintah pusat, Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika dan bagi ekonomi Papua dan negara Indonesia secara keseluruhan. Manfaat langsung kepada Republik Indonesia mencakup pajak, royalti, dividen, retribusi dan dukungan langsung lainnya. Kami merupakan penyedia lapangan kerja swasta yang terbesar di Papua dan termasuk diantara wajib pajak nasional terbesar. Selama 2008 manfaat langsung dari PTFI mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS. Sejak dimulainya kontrak kami yang berlaku saat ini dengan pemerintah Indonesia pada 1992, manfaat langsung bagi Indonesia seluruhnya mencapai lebih dari 8 miliar dolar AS.
Kontribusi tidak langsung bagi Indonesia termasuk investasi infrastruktur di Papua seperti kota, instalasi pembangkit listrik, bandara udara dan pelabuhan, jalan, jembatan, sarana pembuangan limbah, dan sistem komunikasi modern. Infrastruktur sosial yang disediakan oleh perusahaan termasuk sekolah, asrama, rumah sakit dan klinik, tempat ibadah, sarana rekreasi dan pengembangan usaha kecil dan menengah. PTFI telah melakukan investasi senilai kurang lebih 6 miliar dolar AS pada berbagai proyek tersebut selama proyek tersebut dilaksanakan. Berdasarkan sebuah kesepahaman bersama yang ditandatangani bersama Gubernur Papua, PTFI berkomitmen menyumbang pasir sisa tambang/SIRSAT sebagai bahan konstruksi untuk pembangunan infrastruktur di Papua, termasuk jalan dan sarana umum. PTFI juga menyanggupi komitmen sebesar 400.000 dolar AS per tahun selama lima tahun (mulai 2006) untuk berbagai proyek pembangunan di kabupaten Mimika. Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Dari jumlah tersebut, 25 juta dolar AS disalurkan kepada LPMAK dan sisa 9,6 juta dolar AS akan diserahkan pada saat perpanjangan nota kesepahaman bersama organisasi tersebut. LPMAK bermitra dengan pemerintah daerah setempat, LSM dan mitra masyarakat lainnya guna mendukung pendidikan, kesehatan dan pembangunan ekonomi masyarakat setempat. Selain Dana Kemitraan, PTFI telah menyumbang 30,5 juta dolar AS untuk berbagai prakarsa investasi masyarakat, termasuk sumbangan tunai sebesar 2,4 juta dolar AS, 25,6 juta dolar AS untuk program masyarakat dan layanan yang dikelola langsung oleh PTFI dan 2,5 juta dolar AS untuk investasi infrastruktur. Secara total, pembayaran Freeport ke pemerintah Indonesia pada tahun 2010 mencapai US$ 1,974 miliar. Rincian dari setoran Freeport ke Indonesia adalah: - Pajak Pendapatan Korporasi, Refunds Netto : US$ 1,293 miliar
- Pajak Withholding untuk dividen asing : US$ 173 juta
- Pajak gaji karyawan : US$ 43 juta
- Dividen : US$ 169 juta
- Royalti dan pajak lainnya : US$ 185 juta
- Biaya Keamanan (Property Taxes) : US$ 14 juta
- Pajak dan Fee lain-lain : US$ 97 juta.
| - 21 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg. [4] [5]
- 22 Februari 2006, sekelompok mahasiswa asal Papua beraksi terhadap penembakan di Timika sehari sebelumnya dengan merusak gedung Plasa 89 di Jakarta yang merupakan gedung tempat PT Freeport Indonesia berkantor.
- 23 Februari 2006, masyarakat Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Tragedi Freeport menggelar unjuk rasa di depan Istana, menuntuk presiden untuk menutup Freeport Indonesia. Aksi yang sama juga dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa asal Papua di Manado.
- 25 Februari 2006, karyawan PT Freeport Indonesia kembali bekerja setelah palang di Mile 74 dibuka.
- 27 Februari 2006, Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat menduduki kantor PT Freeport Indonesia di Plasa 89, Jakarta. Aksi menentang Freeport juga terjadi di Jayapura dan Manado.
- 28 Februari 2006, Demonstran di Plasa 89, Jakarta, bentrok dengan polisi. Aksi ini mengakibatkan 8 orang polisi terluka.
- 1 Maret 2006, demonstrasi selama 3 hari di Plasa 89 berakhir. 8 aktivis LSM yang mendampingi mahasiswa Papua ditangkap dengan tuduhan menyusup ke dalam aksi mahasiswa Papua [6] [7]. Puluhan mahasiswa asal Papua di Makassar berdemonstrasi dan merusak Monumen Pembebasan Irian Barat.
- 3 Maret 2006, masyarakat Papua di Solo berdemonstrasi menentang Freeport.
- 7 Maret 2006, demonstrasi di Mile 28, Timika di dekat bandar udara Moses Kilangin mengakibatkan jadwal penerbangan pesawat terganggu.
- 14 Maret 2006, massa yang membawa anak panah dan tombak menutup checkpoint 28 di Timika. Massa juga mengamuk di depan Hotel Sheraton.
- 15 Maret 2006, Polisi membubarkan massa di Mile 28 dan menangkap delapan orang yang dituduh merusak Hotel Sheraton. Dua orang polisi terkena anak panah.
- 16 Maret 2006, aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura, oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang anggota Brimob dan 1 intelijen TNI tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan pihak aparat. [8] [9]
- 17 Maret 2006, Tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena peluru pantulan setelah beberapa anggota Brimob menembakkan senjatanya ke udara di depan Kodim Abepura [10]. Beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan dirusak alat kerjanya oleh Brimob.
- 22 Maret 2006, satu lagi anggota Brimob meninggal dunia setelah berada dalam kondisi kritis selama enam hari
- 23 Maret 2006, lereng gunung di kawasan pertambangan terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, longsor dan menimbun sejumlah pekerja. 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera [11].
- 23 Maret 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mempublikasi temuan pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan PT Freeport Indonesia. Hasilnya, Freeport dinilai tak memenuhi batas air limbah dan telah mencemari air laut dan biota laut.[12] [13]
- 18 April 2007, sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan pada 21 April setelah tercapai kesepakatan yang termasuk mengenai kenaikan gaji terendah [14]
- 21 Oktober 2011, sekitar tiga orang tewas akibat insiden penembakan di kawasan Freeport Timika Papua. Marcelianus, seorang personil polri berpangkat Brigadir Polisi Satu juga tewas tertembak. [15]
kl misalnya 1gr emas yg kita beli di pasaran 350rb (pembulatan kebawah)
1kg emas = 1000gr = Rp. 350.000,- x 1000 x 100(kg)= Rp. 35.000.000.000,-
30 hari = Rp.35.000.000.000 x 30 = Rp.1.050.000.000.000,-
1 tahun = Rp.1.050.000.000.000 x 12 = Rp. 12.600.000.000.000,-
Bayangin gan !
12,6 Triliun terbuang selama 1 thn
dan liat, untung kita cuma 1% cari 12,6 triliun artinya Rp. 126.000.000.000,-
Artinya Pertahun kita cuma dapet 126 Miliar
Belum yg dikorupsiin sama orang atas ??
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar